aku melarikan diri. sendiri. berlari dan hanya berlari tanpa arah dan tujuan yang jelas. ya sekarang aku disini. memandang layar 14 inch yang tepat berada di depanku saat ini. dikelilingi oleh beberapa orang asing. yang sama sekali tidak aku kenal. terdengar suara gemuruh perang dan suara pistol saling tembak menembak disebelah. setelah ditengok, oh mereka sedang bermain permainan online. sudah berjam-jam aku duduk disini. memandang layar desktop. dan tidak melakukan apa-apa. tatapanku kosong. membayangkan apa saja yang ingin aku bayangkan. aku ingin terbang. bebas. terbang bersamaNya diatas sana. membayangkan sayap putih perlahan-lahan muncul dari belakang punggung lemahku. dan tumbuh semakin besar dan besar. sehingga sekarang aku sudah bisa mulai mengepakan sayapku sendiri. 'plak-plak-plak' begitu bunyinya. aku layaknya seekor burung kecil yang baru keluar dari telurnya. aku seperti ingin dilahirkan kembali.
setelah kejadian siang ini, entah apa isi 'gumpalan usus pink' yang berada dalam kepalaku saat ini. sekarang saat hujan sudah menghapus jejak kakiku dari sekolah sampai kerumah. jejak-jejak itu meninggalkan arti. perjalanan pulang tadi menyisakan beberapa kenangan yang membekas di dalam perasaanku. perjalanan itu sungguh menyisakan isak tangis, kebimbangan dan luka batin tersendiri.
siang ini, jarum pendek sudah mulai meninggalkan angka 10. aku masih berada di ruang itu, bersama seseorang. dan 2 temanku yang lain. sekitar mungkin hanya 2 atau 3 patah kata yang terucap dari mulutku kepadanya. lalu diam. tidak ada interaksi. atau mungkin ia menghiraukanku. semenit, detik detik itu terus berjalan sambil berbunyi seakan mengingatkanku untuk segera pulang. aku tidak mau pulang. tapi aku juga benci akan keheningan. tepatnya, keheningan diantara kita. ku hanya berharap ada beberapa kata yang keluar darinya. tapi itu hanya harapan. kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan harapanku.
aku tidak mau pulang. tidak mau meninggalkannya. aku tidak mau pulang. sama sekali. aku tidak mau melangkahkan kakiku atau bahkan menggerakan kakiku dari ruangan itu sejengkal pun. tapi 'gumpalan usus pink' ini terus mengkordinir saraf-saraf kakiku untuk berjalan. berjalan meninggalkan tempat yang penuh keheningan ini. aku tidak bisa menolak perintah dari 'gumpalan usus pink' ini. hatiku yang seakan-akan beradu mulut dengan si 'gumpalan usus pink'. mungkin mereka bertengkar. saling teriak sana sini yang akan malah semakin membuat aku bingung. sistem ini makin ribet. seakan-akan tidak dapat berjalan dengan normal. korsleting. lama-lama hati dan 'gumpalan usus pink' semakin panas. sistem ini seakan ingin meledakkanku perlahan-lahan, dan ahkirnya aku hancur. tapi dalam kasus ini, 'gumpalan usus pink' yang dapat memenangkan sistem ini. jadi sang pemenang langsung mengkordinasi anak buahnya dengan mengirimkan pesan untuk mulai menggerakkan kedua kakiku. kanan. kiri. berselang-seling bergantian. hahaha layaknya robot. sistem yang mengatur semua pergerakan tubuhku saat itu. langkah demi langkah yang dilakukan oleh kaki demi permintaan sang pemenang, semakin membuatku jauh dengan dia. jauh dan jauh.
hingga aku berhenti pada suatu titik. titik dimana mungkin ia sudah tidak dapat melihatku lagi. aku berada dibalik semak-semak hijau yang sudah tidak asing lagi keberadaannya. pada titik itu aku sadar, aku menyesal. aku menyesal dan sungguh amat menyesal. mengapa harus 'gumpalan usus pink' yang memenangkan pertengkaran itu? ego bermain sangat besar dalam pertengkaran yang hampir membuatku meledak itu. aku langsung menolak segala perintah dari 'gumpalan usus pink' dan mulai memakai sang pemenang sesungguhnya, hati. kaki-kaki yang tadi mengantarku pada titik itu, mulai kembali pada titik awal dimana pertengkaran tadi terjadi. menyesal lagi. kembali menyesal. karena dia sudah tidak ada. aku menanyakan keberadaanya pada, seseorang berseragam putih yang membawa segerendel kunci dan mulai menutup gerbang hijau. dia pulang. ke arah sana. terlambat. sudah sangat terlambat. kekesalanku sudah semakin memuncak pada 'gumpalan usus pink'. dasar egois!
kakiku kembali berjalan. tetapi kali ini semakin pelan. ku melihatnya di seberang. seakan aku hendak mengejar dan berteriak memanggilnya. tapi aku takut tidak dihiraukannya lagi. aku hanya membiarkannya pergi begitu saja. aku menggenggam freshtea yang barusan ku beli, setelah melihatnya disebrang tadi. aku kembali jalan berbalik arah. dan tiba-tiba terlintas dipikiranku untuk mengejarnya. dan si 'gumpalan usus pink' dan hati kembali bertengkar, kali ini lebih hebat. sistemku seakan muak akan pertengkaran mereka yang tidak pernah sejalan.
"kejar dia!!!"
"jangan, dia sudah tidak suka melihatmu lagi!! sudah terlambat. dia ingin pulang,biarkan dia pergi"
'' hubungi dia, itu!!! disana ada telepon umum. hubungi dia, bertemu dengan dia!!"
"jangan, sudah biarkan dia pulang. kamu pulang. persiapkan untuk hari senin"
"hahaha kamu lucu!!! bagaimana kamu bisa mempersiapkan untuk hari senin dengan keadaan seperti ini. TIDAK AKAN bisa kamu tenang!! selesaikan dengan dia, maka kamu akan tenang"
namun kali ini, hati yang menjadi pemenang. telepon umum itu sudah jarang terjamah oleh orang. keadaannya sudah menyedihkan. dan tidak lagi bisa dipergunakan.
"itu disana!! di terminal, ada sebuah telepon umum didekat warung kopi biasa kamu menunggu ibumu. pakai itu!!"
teriakan itu sangat kencang. dan membuatku tersentak dan segera memberentikan angkutan umum yang melintas saat itu. aku berjalan cepat. tidak! aku tidak berlari. seperti orang kesurupan saja. lagipula terminal itu banyak angkutan yang lalu lalang seenaknya. aku harus agak berpikir jernih. saat aku berhenti didepan telepon umum itu, kondisinya lebih menyeramkan lagi. sepertinya kata 'telepon' saja sangat tidak tepat untuk benda yang ada didepan saat ini. bayangkan, gagang teleponnya pun sudah tidak ada. mungkin sudah dijadikan mainan anak-anak. sistem dalam tubuhku kembali korsleting. mereka bertengkar "dimana aku bisa menemukan telepon?" si 'gumpalan usus pink' kembali mengeluarkan data. dirumah. dirumah satu-satunya telepon milikku. satu-satunya telepon yang keberadaannya masih layak dan kondisinya tidak separah kedua telepon sebelumnya tadi. dengan secepat kilat aku pulang. mengukir jejak-jejak kakiku kembali kerumah.
kurasa jejak kaki kurang tepat, karena saat itu aku menggunakan jasa pengantar yang menggunakan benda beroda dua bermesin.
dan kembali, sistemku korsleting untuk yang kesekian kalinya. pemikiranku semakin berjalan kearah yang tidak jelas. membayangkan apa yang terjadi barusan. tindakan apa yang harus aku lakukan selanjutnya. mesin itu dengan kencang membawaku semakin dekat dengan rumah, mungkin telepon lebih tepatnya. lalu apa yang akan aku lakukan dengan telepon? meneleponnya? si 'gumpalan usus pink' kembali mendominasi sistemku saat itu. tidak kurasa aku tidak akan mencoba kembali meneleponnya. kurasa mungkin memang dia sudah muak denganku. entah apa alasannya. dan kali ini aku menurut. entah mengapa, tidak ada penolakkan sama sekali dari hati. kemana hati? kemana musuh si 'gumpalan usus pink'? apa kali ini dia berpikiran yang sama dengan 'gumpalan usus pink'? tumben.
kubuka gerbang rumahku. melepas kaus yang menutupi kakiku. menaruhnya didalam benda hitam pelindung kakiku. kumasuki ruangan berwarna biru itu, ya kamarku. dengan jendela yang masih tertutup, sinar matahari saat itu seakan berusaha hendak masuk melewati jendelaku. aku hanya berdiri dan terdiam di pintu berwarna cokelat di pojok kamarku. kembali berpikir, tapi kali ini tidakk ada lagi pertengkaran hebat dalam sistemku. seakan mereka semua sudah damai, sudah 1 jalan pemikiran yang sama. kulihat pojok kamarku yang berantakan, tumpukan baju dan buku dimana-mana. seakan kamarku bertanya 'kemana pemiliku selama ini? dia cuma numpang tidur saja. tapi tidak peduli denganku'
Lalu disitu aku tersadar, aku sudah buntu tidak tau arah dan tujuan yang jelas kemana aku akan memmbawa semua ini. kuhanya bisa serahkan padaNya. dan aku ingin sekali bertemuNya. aku ingin kembali membuka sayap ku, mengepakannya dan terus berusaha untuk terbang dan bertemuNya.
tetapi sialnya, ku kembali mengingatnya setiap kali kubuka benda hijau bertali oranye yang selalu kubawa setiap hari, setiap kali aku membuka media sosial, ya aku memasang foto kami sebagai background, setiap kai aku hendak tidur, ya di tembok kamarku, setiap kali mencium seragamku yang masih tercium aroma tubuhnya, setiap kali aku melihat boneka monyet itu, setiap kali aku... ya memang aku tidak berusaha melupakan, aku hanya ingin melakukan apa yang dia inginkan seperti perjanjian kita kali lalu.